Parkinson's Law (Hukum Parkinson)

Ketika saya mendengar kata "parkinson" yang terlintas dipikiran saya pertama kali adalah nama penyakit yang diidap Muhammad Ali. Bukan, kita tidak sedang bicara tentang penyakit disini. Bukan pula mengenai ilmu hukum. Parkinson's Law yang saya maksud disini adalah tentang salah satu cara digunakan olah banyak orang sukses didunia untuk meningkatkan produktifitas mereka. Parkinson's Law pernah (sering) kita lakukan namun tanpa kita sadari Ketika sedang kuliah S2, saya diberitahu oleh salah seorang dosen untuk tidak menumpuk tugas. Kenapa tugas jangan ditumpuk dan sebaiknya langsung dikerjakan ? Karena tugas-tugas kuliah S2 memang sangat banyak, agar supaya kita tidak kerepotan jadi setiap ada tugas sebaiknya langsung dikerjakan. Saya melakukan cara ini selama awal-awal semester dan cukup berhasil. Namun kelemahannya, waktu dan tenaga yang saya keluarkan untuk setiap tugas terasa sangat banyak, dan saya agak kelelahan. Pada semester-semester selanjutnya saya mengganti taktik. Tugas-tugas saya kerjakan dalam rentan waktu yang sempit sebelum pengumpulan. Hal tersebut saya lakukan agar tugas dapat selesai lebih cepat dan seluruh tenaga dapat dioptimalkan dalam waktu yang singkat tersebut. Alhasil proses pengerjaan tugas kuliah berlangsung jauh lebih cepat dari biasanya. Mungkin anda pernah mempraktekan jurus SKS (Sistem Kebut Semalam), banya PR dari sekolah dikerjakan gila-gilaan hanya dalam semalam. Setelah lama saya praktekan, belakangan baru saya sadari ternyata Ini adalah suatu konsep yang ada teorinya yaitu Parkinson's Law atau Hukum Parkinson. Pada tahun 1955 Cyril Northcote Parkinson, seorang sejarawan Inggris menulis essay berdasarkan pengalamannya di British Civil service. Dalam essay tersebut mengatakan, jumlah waktu yang kita berikan untuk suatu pekerjaan adalah sama dengan dengan berapa lama pekerjaan tersebut akan selesai. Misalnya, jika kita diberikan waktu seminggu untuk mengerjakan suatu makalah, maka makalah itu butuh waktu seminggu untuk selesai. (yah,… banyak orang memang suka menunda pekerjaan ya kan) Bagaimana memanfaatkan Parkinson's Law untuk keuntungan kita? Untuk memudahkan, saya bagi beberapa level saja. Silakan disesuaikan selera masing-masing untuk dipraktekan. Level 1 Mengerjakan pekerjaan sesaat sebelum deadline ditetapkan. Cara ini mungkin bisa sangat efektif memanfaatkan waktu dan tenaga, namun resikonya juga cukup besar, misalnya jika terjadi hal-hal yang tidak terhindarkan disaat-saat genting penyelesaian pekerjaan, maka sayonara. Pekerjaan tersebut otomatis tidak selesai. Sangat beresiko, jadi cara ini tidak disarankan, kecuali bagi anda-anda yang mempunyai jiwa pemberani. xD Level 2 Mengerjakan pekerjaan lebih awal namun seakan deadline sudah dekat (dengan menggunakan pendorong) Level 2 yaitu mengerjakan pekerjaan diawal jauh sebelum waktu yang sebenarnya ditentukan, namun kita menganggap seakan deadlinenya sebentar lagi. "tidak bisa begitu dong, bagaimana kita bisa produktif kalau kita sendiri tahu deadlinenya masih lama?". Nah untuk membantu, kita perlu yang namanya "pendorong". Ada banyak cara yang dapat kita lakukan, ini adalah contoh cara yang gampang: serahkan sejumlah uang pada kenalan kita, kemudian katakan: "jika seandainya besok pagi tugas ini tidak selesai, silakan ambil uangnya". Dijamin, sebelum besok pagi, mati-matian kita kerjakan tugas tersebut. Wkwkwk Level 3 Mengerjakan pekerjaan lebih awal namun seakan-awan deadline sudah dekat (tanpa menggunakan pendorong) Nah, ini level masternya dari Parkinson's Law. Dimana kita dapat menentukan sendiri mengerjakan suatu pekerjaan dalam kurun waktu yang sempit tanpa dorongan sama sekali. Kita sendiri yang memiliki kesadaran dan mempush dalam diri kita untuk sangat efektif mengerjakan sesuatu. Tentunya kita tetap harus tentukan juga berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk selesai. Mungkin tidak mudah untuk dipraktekan banyak orang, namun super efektif (makanya ada di level tertinggi). Selamat mencoba. Salam Sukses. (^^)v

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua